Tuesday, October 6, 2020

TULISAN SAYA

A. Latar Belakang Munculnya Kaum Imigran dalam Masyarakat Indonesia

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang rata-rata hidup dalam taraf kehidupan yang serba berkecukupan, dimana hal itu secara jelas dipengaruhi oleh pemerintahan yang kurang mampu mengelola perekonomian negara sehingga mampu menjadikan negaranya maju dan masyarakatnya hidup dalam kelebihan. Kondisi tersebut diikuti dengan terjadinya kurangnya lapangan pekerjaan yang ada maupun tempat pelatihan yang mampu mencetak tenaga kerja yang ahli yang mana menimbulkan semakin sulitnya seseorang yang hidup di Negara in untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. 
Dengan keadaan yang demikian rasa percaya masyarakat terhadap kemampuan negara Indonesia untuk mampu mensejahterakan rakyatnya pun semakin lama semakin tergerus seiring berjalannya waktu. Dan sebagai solusi dari permasalahan ini sebagian masyarakat Indonesia memutuskan untuk memilih bekerja di luar negeri, seperti yang dialami oleh saudari Yuni Setiani yang pernah bekerja di Malaysia selama 3 tahun di Malaysia sebagai Tenaga Kerja Wanita Indonesia, alasannya untuk memilih bekerja ke luar negeri pun disebabkan adanya tekanan ekonomi yang disertai lingkungan keluarga yang mendukung dipilihnya jalan ini. Apalagi ditambah dengan tidak adanya peluang kerja lain, bagi mereka yang merupakan luluisan pendidikan SMK.
Disamping kurangnya kemampuan dalam mengbangkitkan perekonomian, pemerintah Indonesia juga mengalami penyakit lain yaitu kurangnya kemampuan untuk meningkatkan mutu tempat-tempat menempuh pendidikan, baik itu sekolah, kampus, maupun pelatihan tenaga terampil dan tenaga ahli. Dari keadaan tersebut, sering kali kita mendengar bahwa sumber daya manusia Indonesia bermutu rendah dan kurang kompeten dalam bidang yang ditekuninya. Hal inilah yang kemudian menjadikan sebagian orang Indonesia melirik tempat-tempat menempuh pendidikan yang ada di luar negeri yang notobene memiliki kualitas lebih dibanding tempat-tempat pendidikan yang ada di negaranya sendiri. Walaupun demikian, banyak masyarakat Indonesia tetap memilih menempuh pendidikan di dalam negeri sebagai akibat keterbatasan dana yang dimiliki untuk menempuh pendidikan di luar negeri yang memiliki taraf perekonomia lebih tinggi
Dari hal inilah, kemudian mendorong sebagian masyarakat Indonesia memimpikan mampu berjuang hidup di luar negeri dan banyak diantaranya berusaha mengambil jalan alternatif untuk menapatkan kesempatan berjuang hidup di luar negeri, yaitu dengan mencari beasiswa bagi mereka yang ingin meningkatkan pendidikannya maupun mengikuti test-test seleksi yang diadakan oleh suatu perusahaan maupun sekolah untuk menyeleksi mereka-mereka yang berkompeten untuk dikirim ke luar negeri agar mereka menjadi tenaga ahli maupun tenaga terampil yang berguna bagi perusahaan amupun sekolah itu sendiri. Seperti yang terjadi pada Saudari Ernawati yang merupakan lulusan S1 Hubungan Internasional di Universitas Gajah Mada, yang telah melanjutkan studi S2-nya di Australia dengan cara menperoleh hak menerima beasiswa pendidikan dari Departemen Luar Negeri, beasiswa ini sendiri sebenarya merupakan cara dari Departemen ini untuk mendapatkan tenaga ahli yang berkompeten di bidangnya, tanpa harus menanggung resiko mendapatkan tenaga ahli yang “diragukan” kemampuannya. Bahkan tidak lama setelah menyelesaikan pendidikan S2 tersebut, dia dikirim ke Texas untuk ditugaskan bekerja di KBRI texas selama 3 tahun. 
Contoh lain adalah yang dialami oleh Saudara Alfian Miharja yang saat ini masih menempuh pelatihannya di Jepang di perusahaan Toyota pusat, yang memperoleh kesempatan ini dengan cara mengikuti test seleksi yang diadakan perusahaan Toyota. Test seleksi ini sendiri merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam meningkatkan kemampuan pekerjanya dengan gaji tergolong cukup. Test ini sendiri kemudian menjadi momok bagi hamper seluruh pekerja Toyota untuk berkompetisi menjadi yang terbaik.
Faktor lain yang mendorong untuk memilih ber-Imigrasi adalah adanya cerita tentang kehebatan dari negara lain, baik melalui media informasi maupun hasil berkomunikasi dengan orang yang bersangkutan (yang akan dibahas penulis dalam sub pembahasan selanjunya). Yang mana kemudian mendorong orang-orang yang memiliki jiwa petualangan yang kuat dan bersemangat untuk mewujudkan impian "jalan-jalan keliling dunia" terutama tinggal di negeri berkebudayaan Barat. Selain tiga faktor yang telah disampaikan di atas, tidak menutup kemungkinan adanya faktor-faktor lain yang menjadi latar belakang munculnya kaum imigran di dalam masyarakat Indonesia yang belum penulis sebutkan disini, yang mungkin faktor-faktor lain itulah yang pada saat ini menjadikan alasan untuk untuk berimigrasi semakin kuat dan pesat tumbuh di dalam masyarakat Indonesia. Adapun perkembangan kaum Imigrasi dengan segala faktor penyebabnya pada akhirnya akan menyebabkan timbulnya perubahan-perubahan sosial-budaya baik dalam diri kaum Imigran itu sendiri sebagi akibat adaptasi yang dilakukannya di “alam rantau” mereka, maupun pada masyarakat pribumi yang ada di Indonesia sebagai akibat terjalinnya kontak-kontak komunikasi yang kemudian berfungsi ganda sebagai komunikasi persona yang akan penulis bahas pada sub materi selanjutnya.
B. Komunikasi Sebagai Media Propaganda Budaya Antara Kaum Imigran Dengan Masyarakat Pribumi

Dengan munculnya kaum Imigrasi ini memunculkan jarak yang memisahkan antara masyarakat Indonesia yang ada di wilayah negara Indonesia (masyarakat pribumi) dengan sebagian dari masyarakat Indonesia yang berimigrasi di wilayah negara lain. Dalam hal inilah kemudian terjadi pemaksimalan penggunaan alat komunikasi sebagai media penghubung, yang mana media ini sendiri juga menjadi penyalur nilai-nilai budaya yang mempengaruhi kedua belah pihak. Komunikasi yang terjadi biasanya menggunakan media internet seperti yang terjadi pada kasus-kasus komunikasi di sekitar penulis, walaupun ada juga komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan media telepon yang mana dilakukan oleh Orang tua dan keluarga dari saudari Ernawati, dengan alasan kurangnya kemampuan dalam menggunakan media komunikasi lain yang murah. Hubungan komunikasi itu sendiri penulis artikan sebagai proses terjadinya pertukaran informasi dua arah atau lebih dengan menggunakan alat bantu komunikasi. Yang mana komunikasi dibahas dalam tulisan ini merupakan komunikasi tidak langsung karena tidak adanya kedekatan secara fisik dari pelaku komunikasi.
Dalam proses komunikasi antara kaum Imigran dengan masyarakat pribumi inilah menjadi suatu proses terjadinya propaganda budaya, dimana dari pihak masyarakat pribumi berusaha terus mengingatkan kaum Imigran akan nilai-nalai budaya daerah asal sekaligus secara tidak sadar menerima nilai-nilai budaya asing yang disampaikan oleh kaum Imigran, dan kaum Imigran itu sendiri ada kalanya merasakan kerinduan akan romantisme budaya asal dengan cara tetap menggunakan simbol-simbol budaya asal dan terus menjalin komunikasi dengan orang-orang daerah asal. 
Sebagai contoh yang dialami oleh saudara Alfian Miharja yang berkomunikasi dengan orang-orang dari daerah asal dengan menggunakan bahasa jawa gaul yang sering digunakan pada saat masih hidup bersama orang-orang dalam daerah asal, bahkan tidak jarang sengaja menggunakan kata-kata kasar (misuh) untuk bernostalgia dengan teman-temannya, tapi ada kalanya dia menggunakan bahasa Jepang apabila berkomunikasi yang merupakan cerminan kebanggaan Alpian atas keberhasilannya pergi ke Jepang. Penulis memandang fenomena ini sebagai suatu usaha komunikasi yang mengharapkan propaganda budaya ke dalam diri sebagai romantisme budaya dan menekankan propaganda budaya kepada orang daerah asal.
Lain halnya dengan yang dialami oleh saudara Pujo Ardianto, dimana pada saat menceritakan kisah hubungan komunikasinya dengan keluarganya, atau lebih tepatnya sepupu yang ada di negara Malaysia. Dia berusaha melakukan “penyetelan” tata cara berkomunikasi yang disesuaikan dengan lawan berkomunikasinya, baik penggunaan bahasa maupun intonasi penyampaian kata. Bahkan dia pun “dipaksa” oleh lawan komunikasinya untuk melakukan modernisasi metode berkomunikasi, dalam hal inilah adalah penggunaan media internet seperti e-mail dan situs jejaring bersama, agar hubungan komunikasi keduanya lebih lancar dan murah (sebelumnya komunikasi dilakukan dengan menggunakan media telepon dengan harga resiko yang mahal). Bahkan sebagai akibat pemodernan metode berkomunikasi tersebut dan bentuk komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan situs jejaring bersama, saudara Pujo mendapatkan teman-teman dari malaysia sehingga dalam kasus komunikasi massal disini dia menjadi pihak minoritas. 
Dengan terjadinya hal tersebut, memperlancar dan memperkuat propaganda budaya yang dilakukan oleh orang-orang Malaysia terhadap saudara Pujo. Di kesempatan lain, diceritakan tantang tema pembicaraan yang dilakukan oleh saudara Pujo dengan keluarganya tersebut, yaitu tentang kondisi pendidikan yang ada disana dan juga kondisi pergaulan masyarakat Malaysia yang sering kali diceritakan lebih baik dibanding dengan yang ada di negara ini. Dari cerita tersebut penulis menangkap bahwa dia telah terkena propaganda budaya dimana menyebabkan dia lebih memandang budaya Malaysia tinggi, dengan alasan kesesuaian budaya Malaysia dengan komponen utama kehidupan bagi diri saudara Pujo, yaitu Syariat Islam dibanding rasa nasionalisme-nya ataupun kecintaan terhadap budaya sendiri. Dan dari propaganda budaya melalui komunikasi tersebut menyebabkan saudara Pujo untuk melakukan imigrasi dan m enikmasti “keindahan” negara Malaysia.
Contoh lain adalah komunikasi yang dilakukan oleh saudari Ana Wahyuning dengan kenalan-kenalan pelayar Imigran di Malaysia, yang mana tidak terjadi unsur mayoritas-minoritas, sehingga propaganda budaya pada kasus ini berjalan dengan lambat. Dalam kasus komunikasi saudari Ana dengan Pelayar disini, penulis menangkap ketidak seimbangan informasi yang disampaikan, misalkan menceritakan kondisi Malaysia dengan segala isinya tanpa bisa dibalas dengan penceritaan daerah asal yang memiliki porsi sama sehingga propaganda budaya lebih dialami pihak Ana. Selain kadar informasi yang disampaikan, ada unsure lain yaitu tema informasi yang disampaikan, semakin menarik suatu tema yan diinformasikan dalam proses komunikasi maka penerima informasi juga akan mengalami kekalahan dalam melancarkan propaganda budaya. Semisal Ana membicarakan masalah seputar dunia perkuliahan yang cenderung monoton, dibalas oleh Hanafi (Pelayar Imigran) dengan menceritakan segala sesuatu tentang Malysia dengan pernak-perniknya yang variatif. Selain itu, Hanafi lebih mengenal kondisi lingkungan sosial-budaya daerah asal (Jawa timur khususnya daerah Pare) sehingga penceritaan oleh Ana yang notobene kurang luas pengetahuannya tentan lingkungan sosial-budaya menjadikan pihak Hanafi tidak terpengaruh dengan propaganda budaya yang dilancarkan pihak Ana, 
Menjadikan pihak ana sebagai penerima propaganda budaya sehingga secara lambat terjadi keinginan merasakan kebudayaan Malaysia yang “menarik”. Komunikasi yang dilakukan disini adalah dengan menggunakan media telepon maupun SMS, sehingga intensitas komunikasi lebih tinggi dibanding dengan menggunakan layanan internet, yang dengan ini proses propaganda budaya pun ikut meningkat cepat.
Dari keterangan yang telah dijabarkan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam proses propaganda budaya ada beberapa unsur yang berpengaruh, yaitu tujuan dilakukannya komunikasi tersebut, posisi pelaku komunikasi dalam konteks mayoritas-minoritas dalam hubungan komunikasi massal, konsep kehidupan (Nasionalisme, Agamais, cinta akan kebudayaan) yang dipegang teguh dalam diri pelaku komunikasi, tingkat daya tarik tema yang disampaikan dalam komunikasi, dan tingkat intensitas komunikasi yang dilakukan. Selain itu ada juga faktor lain yaitu waktu terpisahnya seseorang dari lingkungan budaya asal. 
Seperti yang telah dialami saudari Erna yang telah terpisah selama kurang lebih 9 tahun dari lingkungan budaya asalnya di Madiun yaitu sejak awal kuliah di Yogyakarta sampai pulangnya dari Texas ini. Dimana dengan lamanya perpisahan ini, unsur-unsur asing lebih tertanam dalam dirinya dan kadar unsur-unsur tradisional yang dikenalnya terbilang mimim kemudian semakin tergerus (untuk diketahui, saudari Erna ini adalah anak rumahan sehingga budaya asal yang diketahui hanya terkait kegiatan di rumah). Hal ini terbukti dari percakapan yang kami lakukan tentang wayang, dimana dia mengatakan bahwa sudah tidak mengerti bahasa dalam pertunjukan wayang, padahal sebelum menjadinya perpisahan budaya tersebut, setiap hari dia mendengarkan pertunjukan wayang di radio. Hal ini kemudian menjadi penghambat bagi orang tua dan keluarganya untuk melakukan propaganda budaya kepadanya, apalagi komunikasi yang dilakukan pun memiliki tingkat intensitas yang rendah yaitu seminggu sekali.

No comments:

Post a Comment